motor roket, denger namanya sekilas bisa bayangin motor listrik ato apapun yang disebut motor, selalu (selama ini yg sering) ada hubungannya sama rotasi mesin. Maklum selama ini mesin sebagai alat gerak selalu mengandalkan rotasi. Hampir semua yang ada di daily life kita, motor (mesin penggerak) selalu berdasarkan prinsip putaran atau rotasi yang selanjutnya dimodifikasi hampir completely menjadi alat-alat gerak disekitar kita. Hampir semua motor berasal dari gerak rotasi, kecuali untuk penggerak kereta layang (magnetic levitation). berarti kira-kira kita nggak terlalu bodoh kalo bilang bahwa motor selalu berhubungan dengan rotational motion.
Tidak demikian dengan motor Roket, karena meskipun disebut dengan motor, sebuah motor roket sederhana hanya terdiri dari tabung (ruang) pembakaran, tempat dimana bahan bakar direaksikan dengan O2, dan selanjutnya lubang buang, untuk membuang gas panas yang sekaligus sebagai alat penggerak roket,.
motor roket sederhana tidak jauh berbeda dengan desain sebuah pelontar kembang api sederhana, hanya saja kemudian design interior inilah yang sangat menentukan keampuhan si Roket, dalam sebuah riset pengembangan roket seperti di LAPAN, hal-hal yang dilakukan selanjutnya untuk mengembangkan sebuah motor roket tidaklah selalu dengan menambahkan piranti-piranti canggih ke dalam motornya, tetapi bias juga dengan design interior tabung ruang bakar dan lubang buang (nozzle). Pengetahuan mengenai aliran gas mampat ataupun fluida secara umum menjadi sangat penting dalam pengembangan motor roket. Cabang Fisika inilah yang kemudian menjadi kunci design Throat nozzle sebuah motor roket, tentunya yang tidak kalah penting adalah kimia, untuk menentukan bahan yang baik untuk bahan bakar sebuah motor roket, sehingga menghasilkan daya dorong yang sesuai.
Ada banyak hal yang membosankan bagi Anda para penggila kreasi sains namun sangat malas ketika dituntut untuk belajar. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh para insinyur dan ilmuan di LAPAN mungkin sangat menarik bagi Anda pecinta roket. Namun, ketika hasil kerja keras mereka ditumpahkan ke dalam bentuk Laporan resmi atau jurnal periodik, maka keindahan itu tidak akan tampak, karena yang Anda llihat kemudian adalah bahasa-bahasa aneh dan sekumpulan tabel yang membosankan, serta grafik-grafik hasil ujicoba sebuah “motor”. Memang demikianlah kerja para saintis dibalik terciptanya karya-karya sains yang menakjubkan.
Ujicoba sebuah motor roket dilakukan untuk mengetahui apakah konstruksi dan bahan bakar sudah berkelakuan seperti yang diharapkan. Kekuatan tabung terhadap tekanan dan suhu, kesempurnaan pembakaran, waktu pembakaran (yang biasanya hanya memakan waktu beberapa detik atau sekitar 1 menit untuk roket ujicoba) serta (ini intinya)kuatnya daya dorong adalah beberapa hal yang sering kita jumpai pada tulisan-tuliosan tentang ujicoba motor roket.
Beberapa bulan lalu (saya edit post ini pada bulan April) LAPAN telah berhasil menguji coba roket terbarunya yang mempunyai diameter 450 mm .Anda para pembaca majalah “Angkasa” pasti tahu dengan laporan itu(kalo diameternya salah, tolong kasih komen yah..). Motor tersebut juga menggunakan bahan bakar padat seperti roket LAPAN kebanyakan,dan tentu saja desain motornya tetap seperti sebuah pelontar kembang api, atau sebuah selongsong peluru raksasa, namun salahsatu sisinya tertutup.
Ruang bakar motor dengan bahan bakar padat adalah tabung bahan bakar itu sendiri, sehingga ruang ini perlu didesain sekuat mungkin untuk menahan “ledakan” propelan, tentunya tanpa melupaka aspek penting lainnya. Ini berbeda dengan motor berbahan bakar cair seperti yang sering kita lihat di TV ketika ada peluncuran roket NASA misalnya. Roket ini mempunyai ruang bakar yang terpisah dengan tabung bahan bakar, sehingga desainnya berbeda dengan motor bahan bakar padat, dan tentusaja lebih rumit.

