Sebagian besar pesawat penumpang dan juga militer digerakkan oleh mesin turbin gas, yang juga disebut dengan jet engine. Ada bebrapa jenis mesin turbin gas, tapi tentu saja semuanya memiliki komponen pokok yang sama. Kesemuanya memiliki nozzle untuk menghasilkan thrust, mengatur gas buang kembali ke aliran bebas, serta untuk mengatur tingkat aliran massa melalui mesin. Nozzle berada di bagian hilir turbin.
Sebuah nozzle sebenarnya adalah sebuah alat yang sederhana, hanya sebuah tabung berbentuk khusus dimana gas mengalir. Walaupun demikian, matematika yang menangani operasinya melibatkan perhitungan extra teliti.
Setiap jenis pesawat memiliki bentuk nozzle yang khas. Turbojet dan turboprop biasanya memiliki nozzle dengan fixed geometry yang konvergen seperti pada gambar bagian sebelah kiri. Turbofan memiliki nozzle co-annular. Aliran pusat atau inti keluar dari pusat nozzle sedangkan aliran kipas keluar dari annular nozzlenya. Nah, campuran dari kedua aliran ini menghasilkan peningkatan thrust, selain itu nozzle jenis ini juga cenderung lebih tenang daripada convergent nozzle. Afterburning turbojet dan turbofan membutuhkan sebuah CD nozzle yaitu variasi geometri dari convergent dan divergent. Pada nozzle ini, aliran lebihdulu berkumpul pada minimum area atau throat, kemudian dikembangkan melalui bagian divergen dan keluar disebelah kanan(seperti pada gambar ). Geometri yang bervariasi ini sebenarnya menyebabkan nozzle ini berbobot lebih berat daripada fixed geometry tapi menghasilkan operasi mesin yang efisien mencakup aliran angin yang lebih luas daripada hanya sebuah fixed geometry nozzle.
Mesin roket juga menggunakan nozzle untuk mempercepat aliran gas panas menghasilkan thrust. Mesin roket biasanya menggunakan sebuah CD nozzle dengan bagian divergen yang lebih besar daripada yang dipakai oleh turbin gas pada jenis nozzle yang sama.
Semua nozzle di atas berbentuk bulat atau hampir menyamai silinder. Saat ini para insinyur telah berexperimen dengan nozzle yang memiliki keluaran berbentuk persegi. Inilah yang menyebabkan aliran fluida lebih gampang dibelokkan atau divektorkan, seperti yang ditunjukkan pada gambar bagian tengah. Perubahan arah aliran menjadikan pesawat lebih mudah bermanuver. Nozzle jenis telah dipakai oleh F-22 Raptor.
Karena nozzle mengatur gas buang panas kembali ke aliran bebas, bisa saja timbul interaksi yang cukup serius antara aliran buangan mesin dan aliran udara di sekitar badan pesawat. Pada pesawat tempur, khususnya, drag yang kuat dapat terjadi di dekat nozzle exit. Sebuah konfigurasi khusus nozzle –afterbody sperti pada gambar di pojok kanan atas yaitu sebuah F-15 dengan maneuvering nozzle yang masih dalam tahap eksperimen. Seperti halnya desain inlet, desain eksternal nozzle juga ditangani oleh pihak perancang badan pesawat (airframer). Sedangkan bagian dalam nozzle menjadi tanggung jawab pihak produsen mesin.
dari : grc.nasa.gov/WWW/K-12/airplane