sains


Angels and Demons, sebuah film fiksi yg diangkat dari novel Dan Brawn dengan judul yg sama, adalah salah satu film yg menggambarkan betapa kualitas sang penulis novel tak bisa dianggap standard. Dia mampu membuat banyak orang yg tak paham tentang Kristen bengong tanpa tahu apakah yang dibacanya sebauh fakta sejarah atau hanya karangan Dan Brawn. Film ini mengisahkan tentang upaya dendam kelompok ilmuan anti gereja – yang terbentuk ratusan tahun karena gereja saat itu selalu keberatan jika riset ilmiah lebih dipercaya sebagai dasar kebenaran – untuk menghancurkan gereja dan segera membuat “aturan dunia baru”.

Sebuah issue kuno tentang perdebatan antara agama dan sains. Sejarah menunjukkan bahwa ternyata sejak abad 19 sains telah menyerah dan terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab oleh sains. Atau malah menemukan fakta-fakta yg justru mendukung teori penciptaan.

Bagaimana hal itu mampu menarik perhatian masyarakat public saat ini adalah sebuah ide yang cemerlang. Di saat dimana orang-orang timur mulai biasa berpikir bahwa orang barat cenderung tak terlalu mempedulikan agama mereka, terkesan, dan memang benar-benar sekuler, justru muncul sebuah novel dengan background ilmiah yang mengungkap tentang isu-isu dalam Kristen. Dan apapun Anda menyebut pendekatan yang dilakukan oleh Dan Brawn dalam novelnya tersebut yag jelas sang penulis mengakui bahwa monotheism adalah kepercayaan yang benar, tanpa menyebut salah-satu agama.

Digambarkan sang tokoh utama menjelaskan bagaimana perjalanan agama-agama baru dalam upayanya untuk “mengimankan” masyarakat yang baru. Mengapa terlalu banyak simbol-simbol Kristen yang mirip dengan apa yang dimiliki oleh agama-agama pagan di sekitar timur tengah. Serta bagaimana kuil-kuil yang dulunya dimiliki oleh penganut agama Yunani, kini telah menjelma menjadi katedral-katedral agung di Vatican city.

Dengan apa yang telah ditulisnya dalam novelnya tersebut Dan Brawn dianggap kurang ajar oleh banyak orang, bagaimana tidak. Salah satu perecakapan antara Langdon (sang tokoh utama) dengan mahasiswa memperlihatkan bagaimana penulis benar-benar meninjau agama dari sisi budaya dan sejarah (kelihatannya memang demikian, namun banyak juga yang mengatakan bahwa apa yang ditulis Dan Brawn hanyalah omong kosong, tanpa bukti sejarah). Di situ salahsatu mahasiswa peserta kuliah Langdon menjadi agak tersinggung karena sang professor menjelaskan bahwa tradisi Kristen yang ada sekarang ini hampir semuanya adalah warisan dari berbagai agama yang lebih tua untuk mempermudah proses pengimanan para pengikutnya yang baru. Mahasiswi itu lantas bertanya, apa yang sebenarnya original dari Kristen?

Kenyataannya memang demikian. Di Jawa, Islam masuk setelah Hindu dan Buddha, hingga saat ini masih banyak tradisi yang dalam islam tidak ada namun para muslim Jawa masih melakukannya. Namun demikian, dasar dari ajaran tersebut tentu sudah berubah kepada Islam. Sebagian orang menyebut tradisi tersebut sebagai Bid’ah. Menurut Anda?

Namun, sayang sekali apa yang dilukiskan Dan Brown malah lebih cenderung menunjukkan kesan bahwa gereja terlalu takut terhadap perkembangan sains. Hubungan keduanya seakan tak pernah akur sejak Galileo mengemukakan penemuannya bahwa pusat solar system bukanlah bumi kita yg kini mulai panas ini. Sejarah memang membuktikan bahwa gereja kurang senang dengan fakta temuan Galileo itu. Mungkin kita perlu mengetahui bahwa Dan Brawn tak memiliki pelatihan dalam bidang sejarah, seni, teologi dan kriptografi. Dan Brawn lebih menekankan karyanya dalam hal intrik rumit dalam pencarian kebenaran seperti halnya thriller pada umumnya, misalnya dalam novel ini adalah pencarian pelaku pencurian antimateri. Dia pernah dicibir oleh ahli kriptografi karena salah-satu novelnya yg tak menggambarkan kriptografi dengan benar.

Anyway, novel ini hebat, karena selain mengangkat tentang fiksi ilmiah cosmo modern namun juga difilm-kan dengan kualitas sangat baik..he he.. saya ga terlalu phm film, tapi stidaknya saya lebih menikmati film ini daripada star trek..

Fisika Star Trek termasuk bacaan favorit saya, namun filmnya sungguh sangat kurang nyaman dinikmati. Orang tentu lebih percaya bahwa wujud accelerator partikel lebih mirip dengan apa yg digambarkan dalam film Angels and Demons, daripada mesin apapun yg Anda lihat dalam serial Star Trek.. itu maksud saya,.

Namun tentu, khayalan yg tertulis dalam novel Dan Brawn tak sepenuhnya dapat direpresentasikan oleh filmnya. Jadi saya yakin Anda juga lebih menikmati obrolan tentang CERN dalam novelnya daripada di film.

tadi abis baca Intisari edisi lawas, di rubriknya Pak Yo…. yah… selalu fisika, Pak Yo memang Imamnya fisika Indonesia.
btw, da yg nanya tentang perjalanan ke masa depan “apa mungkin menurut fisika?”

dan jawaban dari sang Prof, “itu mungkin menurut relativitas einstein..bla..bla..”,

yah… itu seperti contoh di SMA dulu ..kuncinya adalah dengan membuat dilasi waktu yg luar biasa antara dua orang yg berumur sama (hehe, kenapa harus orang? yah, justru ini supaya lebih mudah terlihat perbedaanya, kalo salah satu dari pertikel kembar dilempar ke masa depan, gak ada yg bisa lihat umurnya, haha, justru itu yg telah terjadi!!!) namun berada pada kerangka galilean yang berbeda. Jika 2 buah kerangka ini terpisah oleh dilasi waktu yg sangat besar maka orang yg berada pada kerangka yg bergerak akan tetap awet muda, karena bagi dia waktu melambat sekian kali terhadap waktu di kerangka yg berbeda.Nah, artinya bagi orang yg awet muda dia telah masuk ke masa depan…

Kerangka yg  bergerak sangat cepat relatif terhadap kerangka bumi yg  dianggap diam, maka akan memiliki waktu yg lambat (lebih lambat dari waktu di bumi normal)
.

dan kerangka itu dapat menuju ke masa depan waktu bumi normal, seperti contoh di atas. Nah bagaimana dengan mundur ke masa lampau???? seandinyapun kita cari kerangka yg benar-benar diam terhadap sumbu 3D alam semesta ini, yg “mungkin” berarti memiliki waktu yg lebih lambat daripada bumi, maka kita tetap takkan mencapai masa lampau begitu kita kembali ke bumi, kita hanya melambat dan “mungkin” hampir berhenti(hehe.. terlalu banyak “mungkin”). Dan ini takkan berarti bahwa kita mundur… hehe… mundur… ke masa lampau..

karena itulah Pak Yo menjawab dengan paradok pembunuhan kakek. bagaimana jika seandainya seorang pria pergi ke masa lampau dan membunuh kakeknya sendiri ketika sang kakek masih nelum menikah?

I just wonder about the way my friend behaved, it’s really regrettable, we haven’t wholly understood what we learned so far… I mean we’d like to get as much as knowledge as possible from this school, but then why they called us technician whenever we try to make it clearer? (MORE on Jancok hari ini)

Halaman Berikutnya »