Monthly Archives: Mei 2008

jangan demokrasi…. Rombak saja semuanya…?????

Ahir-ahir ini banyak bermunculan aliran-aliran islam fundamental, yang secara umum cenderung ingin merombak tatanan islam yang telah ada di Indonesia. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa negeri ini adalah tempat dimana pluralism memang perlu diterima. Maklum beberapa orang memang tidak yakin bahwa fundamentalisme akan mampu menyelesaikan masalah yang terjadi pada umat islam atau Negara ini… salah satu hal yang sering diangkat adalah masalah bentuk pemerintahan kita yaitu demokrasi.
Demokrasi memang merupakan ‘produk’ barat, atau beberapa orang lebih suka menyebut Amerika. Namun, dengan alternative yang berupa pemerintahan khilafah islam mendunia apakah akan mampu menyelesaikan ini semua dan negeri kita bersih dari kemaksiatan dan segala macam kedurhakaan kepada Tuhan dan manusia? Demokrasi tak pernah memandang posisi seseorang seperti bagaimana islam memandang seorang yang pantas diangkat menjadi pemimpin. Demokrasi memang buta terhadap syariat, tapi sekali lagi kita harus ingat bahwa negeri ini bukan hanya belongs to muslim. Bahkan agama islam masuk ke Indonesia setelah Hindu dan Buddha.
Apakah system pemeritahan kita memang tidak sah jika dipandang dari sudut Islam? Bukankah system pemilihan langsung oleh rakyat sama dengan pengangkatan sayyidina Ali saat menjadi kholifah. Selain itu , presiden terpilih Indonesia dilantik oleh MPR, sebuah lembaga tinggi, DPR dan DPD yang dapat disepadankan dengan Ahlu a-halli wa al-‘aqdi dalam knsep al-mwardi dalam Al-Ahkam As-Sulthonyah.
Saya tidak bermaksud untuk memuji atau setuju sepenuhnya dengan model demokrasi ini, hanya saja tentu kita tahu bahwa tujuan syar’i dari pemerintahan adalah dalam rangka menjaga kemaslahatan dan kesejahteraan umum. Selama hal itu bisa terpenuhi, bukankah berarti pemerintahan ini bisa dibilang ‘sehat’. Beberapa contoh dari masalalu juga memperlihatkan bahwa pemerintahan yang berdasarkan agama juga seringkali disalahgunakan oleh penguasa, banyak tokoh agama yang dipandang sesat (hanya karena tidak sejalan dengan pemerintahan) dan ahirnya dizalimi.
Mendirikan khilafah sentral sebenarnya terbantahkan oleh dalil berikut: pertama, khilafah mendunia tidak memiliki dasar syar’i yang qath’I. adapun yang wajib dalam pandangan islam, adalah adanya pemerintahan yang menjaga kesejahteraan dan kemaslahatan dunia. Terlepas dari system pemerintahan yang dianut. Karena itu, banyak ulama yang memperbolehkan atau bahkan ikut membentuk pemerintahan di negaranya. Contoh dalam system klasik, antara lain: Daulah Mamalik di Mesir, Daulah Mugol di India, dll.
Kedua, persoalan imamah dalam pandangan ahlussunah waljamaah bukanlah bagian dari masalah aqidah, melainkan termasuk persoalan fiqih Mu’amalah. Karena itulah kiata boleh berbeda pendapat dalam system pemerintahan, sesuai dengan kondisi zaman dan masyarakatnya masing-masing dalam mempertimbangkan maslahah dan masfadah dari system yang dianutnya tersebut.
Ketiga, membentuk pemerintahan agama disuatu daerah, akan membunuh agama itu sendiri di daerah lain. Menegakkan Islam di suatu daerah di Indonesia, sama halnya dengan membunuh Islam di daerah lain seperti Papua, Flores, Bali dan lain-lain. Daerah basis non-Islam akan menuntut hal yang sama dalam proses penegakkan agamanya masing-masing. Bentuk Negara nasional adalah wujud kearifan para pemimpin agama di Indonesia, tidak ingin terjebak pada institusionalisasi agama, sebagai tuntutana dari otonomi daerah.
Keempat, masyarakat masih belum siap benar untuk melaksanakan syari’at Islam secara penuh, terutama untuk menerapkan hokum pidana Islam. Seprti bagi pezinah, dirajam, pencuri dipotong tangannya, sanksi bagi yang tidak melaksanakan sholat dan zakat, dsb. Penerapan Islam secara penuh tanpa mempertimbangkan kesiapan umat Islam akan menyebabkan banyak umat Islam yang tidak akan mengakui keislamannya karena takut terhadap sanksi tersebut. Jika hal itu terjadi, bukankah malah akan merugikan umat Islam sendiri.
Kelima, sulitnya mencari tolok-ukur apakah yang dilakukan oleh seorang kholifah itu adalah suatu langkah politik atau sekedar pelampiasan ambisi kekuasaan, atau itu memang melaksanakan perintah Allah ketika terjadi kekerasan dari khalifah yang berkuasa terhadap para ulama sebagaimana dialami oleh 4 imam madzhab: Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi’I, Ahmad bin Hanbal dan para pengikut mereka. Sejarah mencatat tidak sedikit dari para ulama yang mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh khlifah atas dasar agama. Jika demikian yang terjadi, sudah pasti ulama Nahdliyin akan menjadi korbannya
Kekenam, jika disepakati ide formalisasi syari’ah, maka teori syariah manakah yang akan diterapkan. Apakah model Wahabi seperti di Arab Saudi yang memberangus ajaran –ajaran yang diterapkan oleh kaum nahdliyyin seperti tawassul, tahlil dan sebagainya, atau model syi’ah yang telah membunuh ratusan ulama dan umat Islam. Pemeritah yang melakukan hal itu, sekalilagi, atas dasar agama. Jika itu terjadi di Indonesia , maka warga nahdliyyin yang menjadi korban dari pemerintah yang berbeda aqidah tersebut.
Dalil-dalil semakin meyakinkan bahwa ide untuk mendirikan khilafah sentral akan melahirkan konsekuensi tersendiribukan hanya menyangkut tampilan warga Indonesia, tapi juga kondisi masyarakat yang akan diwarnai oleh konflik dan disistensi oleh elemen bangsa lain.
Dengan mempertimbangkan pendapat dari Imam Al-Ghozali dan Al-Baidlowi maka mengkonversi system pemerintahan yang ada sebaiknya tidak dilakukan mengingat besarnya ongkos social, politik, ekonomi, dan keamanan yang harus ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Karena dalam agama system pemerintahan bukanla system untuk system melainkan system untuk system untuk umat, maka system apapun yan dianut oleh umat didalam memenuhi tujuan syariat dari pemerintah tidak boleh menimbulkan kerusakan yang mengancam keselamatan jiwa dan harta umat. Sebab sebenarnya menurut Imam Ghozali, pemerintahan itu didirikan untuk menata umat, agar kehidupan agama dan dunianya aman dari berbagai ancaman dari dalam maupun luar(Al-Iqtishad fil ‘Itiqad, 1988:147).
Demikian juga dengan al-Baidlawi, ia berpendapat bahwa esensi dari pemerintah adalah menolak kerusakan dan kerusakan tersebut tidak dapat ditolak kecuali dengan pemerintahan tersebut. Yaitu sebuah pemerintaan yang menganjurkan ketaatan, mencegah kemaksiatan, melindungi kaum mustad’afiin, serta mewujudkan keadilan bagi semua. Menurutnya, esensi pemerintahan adalah keharusan profetik dan intelektual dalam menjaga kedamaian dan mencegah kerusakan dunia (seperti dalam Al-Baidlowi, Thawali al-Anwar wa Mthali’al-Andlar, 1998:348).
Fakta di Indonesia pun sangat tidak mendukung akan diberlakukannya system pemerintahan khlilafah, Islam mainstream di Indonesia (seperti NU, Muhammadiyah, Persis dll) mengusung ajaran islam tanpa melalui jalur formalistic lebih-lebih dengan cara membenturkannya secara langsung dengan realitas secara formal, tetapi dengan cara lentur. Mereka berkeyakinan bahwa syariat Islam dapat diimplementasikan tanpa harus menunggu atau melalui institusi formal. Mereka lebih meng-ideal-kan substansi nilai syariat yang terimplementasi dalam masyarakat daripada mengidealisasikan institusi. Kehadiran institusi formal bukan suatu jaminan terwujudnya nilai-nilai syariat dalam masyarakat.

old surobajul

‘moto’ Surabaya, alhmadulillah, Puji Tuhan, kemarin kamera si Topek “Bokong” kebetulan lagi ngangur meskipun keesokan harinya ditahan oleh pihak perpus kampus, karena dia “nyolong” data dari koleksi TA para alumni, yang jelas hari itu saya bisa keliling kota Surobajul(baca: Surabaya) untuk mencari tempat2 yang saya yakin suatu saat saya pasti sangat merindukannya.
Banyak objek yang seharusnya masuk dalam memori kamera si bokong, tapi karena kameranya memang agak “kurang sehat” jadi hanya beberapa gambar saja yang bisa saya upload ke post ini. Lumayan apes juga, sempat beberapa kali error. Indicator baterainya gak pernah full, padahal baterainya jelas2 baru. Baru 2 kali kita ambil gambar, baterainya langsung soak. Akhirya saya terpaksa beli baterrai baru lagi dengan harapan penyakit si kamera bisa cepet sembuh, tapi kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan, ternyata kameranya tetep emoh tangi, halahh y owes karepmu….
Gambarnya ternyata lumayan jelek,  ….kontrasnya rendah, cahaya everywhere, gak tau kenapa, ato mmg empunya gak bisa pake kamera.. he he…  . anyway, then I edited those pictures, and the result is not even better, but worse….!!!. yah, hanya ini yang tersisa di kantong, mau g mau harus diupload. Biarlah jadi kenangan yang menyedihkan…. Surobajul…..