Monthly Archives: Agustus 2008

pidato tan malaka

Tan Malaka (1922) dari : marxists.org

Ini adalah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxist Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke empat pada 12 Nopember 1922. Mengenai isu yang dibawakan oleh Lenin dan diadopsi dari kongres kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan jalan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) telah dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada 1921, tapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda(East indies) oleh otoritas colonial. Setelah proklamasi kemerdekaan pada Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berparsitipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar/ buruh, lawan dari brojuis), yang dibentuk pada 1948 untuk mengorganisir kelas oposisi pada pemerintahan Soekarno. Pada Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.

pidato Tan Malaka

Kosmologi cantik

Teori medan kuantum menggambarkan bahwa semua benda yang ada merupakan keadaan atau pola dari energy yang terisolasi dan dinamis.

Keadaan latar belakang dari energy yang tidak tereksitasi juga disebut hampa kuantum (Quanyum vacuum).

                Suatu benda ketika diikat menjadi banyak ikatan(dieksitasi menjadi berbagai energi), akan tampak sebagai manifestasi yang banyak. Semua benda yang ada adalah hasil eksitasi ruangan hampa kuantum, sehingga ruang hampa ada sebagai pusat dari segala benda. Energy ruangan hampa mendasari sekaligus menembus kosmos. Karena diri kita sendiri bagian dari kosmos, energy ruang hampa pasti mendasari dan memasuki diri kita.

Tidak ada pusat kosmik tertentu daslam fisika newton, gaya gravitasi hanyalah kekuatan yang hadir diantara benda atau materi dimanapun berada.

1.Chaos atau kekacauan

Sebelum ada sesuatu yang nyata, adalah suatu ruang hampa kuantum, lautan dengan segala potensi namun tidak ada yang nyata. Tidak ada materi, tidak ada ruang, waktu, tetapi sesuatu yang tidak dapat kita gambarkan. Dunia yang mungkin berkelip-kelip di sekeliling ggaaris existence, akan tetapi tidak satupun yang mempunyai energy untuk bertahan. Demikian kisah dari para saintis.

2. Gaia

Kemudian sesuatu yang tidak dapat dirubah terjadi. Satu dunia yang mungkin, satu massa pinjaman yang tak beraturan, merebut saatnya yang singkat dan menyususn struktur. Dalam sekejap mata ia telah meepaskan diri dari asal-usulnya.

Sebelum adanya ruang dan waktu, struktur itu belum berbentuk melingkar, tertutup, tanpa awal atau ahir. Dalam ungkapan kasar kita menyebut struktur itu “superstring”.

3. polaritas      

  Alam semesta primer membagi wujudnya menjadi dua. Wujud yang satu tetap sebagai massa dan energy. Wujud yangsatu lagi menjadi ruang/ waktu  dan gravitasi, seperti diungkapkan Einstein. Kedua entitas tersebut menjadi seimbang, berpasangan dan kini berada di luar jangkauan kekacauan, kini, alam semesta mulai berkembang.

4. materi dan energy

Desakasn kekuatan gravitasi terlalu kuat. Tak ada satupun yang melepaskan diri dari cengkramannya. Alam semesta dengan cepat kembali pada kekacauan dan berahir. Namun, manifestasi pertama dari hampa kuantum, medan Higgs mempunyai kekuatan yang lembut. Dalam sekejap dunia mengembang dan kekuatan gravitasi menjadi jauh  labih lemah. Medan Higgs kronis ssebagaimana Anda menyebutnya, merupakan landasan bagi semua yang kini berkembang.

5. Bintang-bintang

Alam semesta didominasi petir radiasi kosmik. Tak ada kuat yyang bisa terbentuk. Semuanya adalah plasma seperti yang ada pada bintang saat ini. Ketika dunia dingin, setelah 300.000 tahun materi tidak lagi dipercepat oleh radiasi kosmik. Prinsip-prinsip lain mempunyai gilirannya sendiri. Galaksi dan bintang dapat membentuk diri dalam kedamian. Namun radiasi background (kosmik) hingga saat ini masih terdeteksi.

6. Unsur-unsur

Bintang-bitang yang pertama seluruhnya terbuat dari api; gas yang dingin diantara mereka adalah udara. Namun, dalam bintang, unsure yang lebih beerat diinkubasi. Ketika sebuah bintang mati unsure-unsur ini tersebar ke angkasa. Dari debu-debu ini dibuat bintang-bintang baru, yang kini memiliki planet-planet kuat yang terbentuk dari kekmpat unsure kuno itu.

7. kehidupan

Ini adalah titik balik. Bumi yang padat telah muncul. Hingga kini alam smesta sedikit menjadi lebih padat, lembab dan terbagi menjadi bagian-bagian. Namun, diluar materi yang lebih dingin dan mati ini, struktur yang lebih kompleks dan lembut dapat terbentuk, pertama bebatuan, Kristal dan senyawa kimia. Selanjutnya mahluk hidup dan mahluk berjiwa. Pendakin yang panjang dan lambat dari eksistensi untuk kembali pada sumbernya telah dimulai.

8. Jiwa

Kekuatan dan particle yang menciptakan bintang dan selanjutnya menciptakan bintang dan selanjutnya menciptakan planet-planet, menciptakan tubuh-tubuh kita  juga. Sebagian orang menganggap bahwa pikiran dan jiwa kita mengikuti irama yang sama. Kita adalah mikrokosmos.

 

Dari buku spiritual quotient   

Obrolan setelah Yasinan, logika agama nggak perlu dipaksakan

Ada hal yang menarik ketika kami sekeluarga selesai melakukan yasinan 7 hari meninggalnya salah seorang anggota keluarga. Perbincangan sederhana mengenai kemampuan logika atau akal manusia dalam mencerna berbagai fenomena alam yang ganjil dan menganggapnya sebagai kebenaran, yah.. kebenaran umum.

            Adalah Judi salah seorang sepupuku yang memulai semuanya. Dia merasa telah lama heran, mengapa sebagian orang mampu mengubah kebenaran hukum alam hanya dengan ‘keyakinannya’. Banyak contoh dari hal sederhana ini, seperti seorang Modin kampong kami yang biasa memimpin  upacara pemberian nama bayi. Si modin bilang dia hanya membaca Kulhu Sungsang (istilah Jawa ‘Kulhu sungsang’, yaitu membaca surat Al-Ikhlas dimulai dari ayat terahir dan ditutup dengan ayat pertama.) untuk menghentikan tangis si bayi. Dan itu memang telah terbukti ‘jika’  yang membacanya  adalah pak modin.

            Bermula dari situlah pembicaraan kemudian melebar sampai pada cerita seorang fotografer Jepang yang mengklaim dirinya berhasil membuktikan bahwa air dapat merespon ransang yang kita berikan bahkan dalam bentuk perkataan, atau do’a. Dia mengatakan bahwa pada temperature tertentu (entah aku lupa temperaturnya, maklum aku sendiri sangat malas membaca.) Kristal air dapat membentuk sebuah formasi yang ‘indah’ jika kita beri ransang positif seperti ucapan salam, dan sebaliknya, kristalnya akan rusak jika kita berikan ransang negative.

            Orang-orang kemudian mulai menghubungkan hal itu dengan ilmu pengetahuan, lantas mengakui bahwa hal itu telah terbukti secara ‘ilmiah’ oleh ‘riset’ sang photographer. Begitu cepatnya berita itu diterima oleh masyarakat, bahkan didukung dengan anjuran agama. Klop… si Jepang telah berhasil membangun paradigm baru tentang perilaku fisik air.

            Jauh sebelum obrolan ini terjadi, berbagai ahli di dunia telah membuktikan bahwa ‘riset’ si photographer adalah salah. Yang berarti bahwa itu semua hanya bohong belaka! The True power of Water has become the untrue power of water!!!! Sampai-sampai ada seorang penulis local yang menulis buku kecil berjudul “the Untrue Power of Water” apa lagi tujuannya kalo bukan menyanggah pernyataan fotografer Jepang itu.

Maklum, masyarakat islam Indonesia sangat mudah termakan berbagai hal yang mendukung kebenaran agamanya, apalagi jika hal itu dinyatakan oleh seorang dari Negara ‘canggih’ dan maju. Tanpa menyaring kebenaran berita tersebut, orang mulai mengiyakan hal itu. Jika kebiasaan seperti ini terus terjadi maka kita tidak jauh beda dengan orang China ketika mereka belum berhasil mencapai luar angkasa yang begitu bangga dengan tembok besar Chinanya dinyatakan sebagai satu-satunya struktur di bumi yang bisa dilihat dari bulan oleh astronaut barat. Dan merekapun kecewa karena ahirnya mengetahui bahwa hal itu tidak mungkin!! Yaitu ketika China telah mampu membuat wahana luar angkasa berawak.

Kembali pada obrolan keluarga tadi… mengetahui bahwa mereka mayoritas mempercayai hal itu, aku dengan percaya diri mengatakan bahwa hal itu salah, dalam artian bahwa tidak semua orang bisa melakukan percobaan serupa dan mendapatkan hasil yang sama seperti apa yang didapat oleh sang fotografer Jepang. Aku mengatakan bahwa air itu memang benar bisa digunakan sebagai obat, seperti anjuran agama, namun proses yang berlangsung tidaklah seperti yang diceritakan oleh Masaru Emoto, fotografer itu.

Kemudian seorang sepupuku yang lain yang sedari tadi hanya mengiyakan berbagai pernyataan kami mulai angkat bicara. Dia mengatakan bahwa kebenaran itu tidak hanya bisa diraih dengan logika manusia, ada berbagai hal yang ‘benar-benar’ terjadi meskipun akal sehat tak mampu mencernanya. Dia amat menyayangkan bahwa apa yang sampai saat ini kami perbincangkan hanyalah berita dari orang lain. Sedangkan kita tidak pernah membuktikan hal itu sendiri. Yah.. mungkin itulah mengapa pembicaraan ini tak pernah berahir.

Aku mulai merasa ragu dengan pendapatku sendiri. Karena memang ilmu pengetahuan (yang  hanya bersumber dari logika)  telah membuktikan hal itu, kebenaran sebuah hokum alam atau teori tak pernah bertahan lama, dalam jangka waktu tertentu pasti ada fakta baru yang menyanggah fakta sebelumnya. Aku mulai sangsi bagaimana jika apa yang dialami Masaru Emoto memang benar. Sepupuku mengatakan bahwa keyakinan memang mampu mengubah apa yang oleh akal sehat dianggap tidak mungkin. Masalahnya, apakah semua orang bisa memiliki keyakinan sekuat itu? Apakah Masaru Emoto termasuk orang yang memiliki keyakinan kuat sperti itu?

Ada banyak orang yang bisa memahami doa namun hanya sedikit yang memiliki keyakinan kuat sehingga do’a atau mantranya manjur, lanjutnya. Lebih sedikit lagi orang yang mampu memahami doa sekaligus mempunyai keyakinan kuat. Ini adalah pembicaraan tentang hal yang tak logis sama sekali seperti mantra. Bukan seperti bom atom yang walaupun kita tidak percaya, bom tersebut tetap bisa meluluhlantahkan alam.

Lantas jika semua hal bisa terjadi tergantung keyakinan kita ‘cukup’ kuat, cerita macam apa yang harus kita percayai? Bagaimana kita tahu bahwa cerita agama ini bukan omong kosong? Dia menjelaskan bahwa sumber kebenaran adalah Tuhan, dan segala kebenaran dari agama itu bisa diterjemahkan oleh ‘beberapa orang’ sehingga hal itu menjadi benar-benar logis bagi semua orang. Dari situlah aku semakin merasa santai karena memang kebenaran kitab suci tidak bisa begitu saja dicerna, sehingga kita tidak dipaksa untuk membuatnya jadi logis. Seperti halnya aspirin, meskipun ada beberapa orang yang tak percaya dia bisa menyembuhkan sakit kepala, namun dia tetap sebutir aspirin yang berguna untuk sakit kepala.

Bagiku seperti itulah kebenaran Tuhan, meskipun kita tidak mampu mencernanya kebenaran itu memang terjadi. Hanya saja memang kita tidak atau belum mampu mencernanya.