Monthly Archives: Oktober 2008

Aneh..

aku posting saat duduk di ruang baca lantai dasar perpustakaan di mana biasanya mahasiswa menggunakan jasa wifi. Meski semua ruang di gedung ini ber_AC tapi ruang yang satu ini sangat menyedihkan, tak banyak jendela, tapi banyak dinding kaca yang langsung menghadap matahari.. waw, SO god damn HOT!…

however, mending pakai wifi di sini, cuz sedikit yang online. sepi gak kyk di taman.

Banyak orang lagi sibuk ngerjain laporan praktikum, untung jurusanku saat ini lagi UTS jadi lab libur dulu. Ada yang aneh dengan praktikum disini, yaitu laporan praktikum. Laporan selalu bersifat kuantitatif, semua diukur berdasarkan jumlah! bukan apa yang tertulis di dalamnya. Seperti dasar teori, harus sekian lembar, padahal apa yang kita bahas tidak sampai mencakup semua yang tertulis dalam dasar teori. Tapi penulisan error di hasil ahir pengukuran besaran fisik tak pernah disentuh ato dikaitkan dengan hasil kesimpulan percobaan. Jadi, sepertinya kita malah tak memperoleh hasil dari praktikum. Sebaliknya, malah selalu disibukkan dengan format laporan, format penulisan daftar pustaka. Pernah, seorang asisten menyalahkan penulisan daftar pustaka dlm laporanku, aku heran kenapa dia hanya menyalahkan sebagian point sedangkan yang lain dibenarkan, padahal semua point kutulis dengan susunan yang sama. Aku sih memilih diam karena kulihat dia begitu PD menjelaskan kesalahanku dan spertinya berharap kalompok kami akan kagum dengan kepintarannya.

Ambisi pribadi…

Budaya pemloncoan di setiap kampus sangat khas. Dan sampai saat ini, dengan berbagai kedok pengkaderan hal itu masih lancar dilakukan di hampir semua kampus. Kalo memang hal itu digunakan untuk tujuan yang baik, hasilnya pasti bukanlah dendam atau trauma dalam pikiran para junior. Dan kalo memang hanya untuk usil sama junior, mestinya hal itu bisa berahir dengan senyum. Gak mungkin junior akan dendam jika memang tahu kalo hal ini hanya bullshit, tai anjing, mereka pasti tersenyum, tertawa.

Tapi bagaimana jika yang terjadi bukanlah keduanya? junior malah dendam kesumat kepada para seniornya, mereka malah selalu berusaha cari aman (mental cari aman), membentuk geng tiap angkatan dll. Senior selalu berpendapat bahwa ini yang terbaik, pengkaderan selama hampir satu tahun untuk tiap angkatan, diskriminasi terhadap maba, restricted area bagi maba, selama hampir satu semester. Ok, mungkin ini memang bertujuan baik untuk membangun mental maba, menjadikannya kader bangsa yang berbobot baik secara skill maupun mental. Tapi siapa yang bisa menjelaskan jika yang terjadi adalah mental-mental pengecut mendarah-daging dalam diri tiap junior?

Pengkaderan selama hampir satu tahun…

 banyak yang terjadi selama itu, kita satu angkatan semakin akrab, bahkan kalo angkatanmu terdiri lebih dari 200 orang, pasti hafal namanya satu-persatu. Tentu semakin kompak, dan solid. Tapi apa gunanya jika hubungan internal angkatan sehat namun hubungan antar angkatan seperti tai anjing? Hubungan antar angkatan selalu diselimuti rasa benci, selalu ingin menjadi yang tertinggi. Sehingga meskipun tiap forum lintas angkatan semuanya seperti fine, di luar forum, there is nothing is fine. Malah kayak kucing2an.

Bukankah ini sudah waktunya seseorang mengakui bahwa ini hanyalah tradisi, dan tradisi ini harus segera dibenahi. Selain karena kurang efektif, tradisi ini juga memalukan, cuz ternyata sebagian besar dari kita tidak begitu pintar ber_akting.

Iklan

Matematik… oh … menyebalkan?

Dosen adalah sumber ilmu, kata mereka, tapi juga karena dosen kadang-kadang kuliah malah jadi semakin rumit, runyam! dan berahir dengan kebutaan… he he.. Itu fakta, banyak kuliah dengan topik-topik yang menyenangkan malah menjadi “mbulet kyk bolah bol” ketika sang dosen menjelaskan dengan bahasa pemrograman(???) yah dia mungkin gak tahu kalo para peserta kuliah adalah sekumpulan homosapien(MORE)

Flip-flop dan Latch (perbedaannya..?)

 Memang perbedaan antara keduanya belum pernah menjadi hal penting selama kuliah di kelas, sampai ketika pertama kali masuk Lab. Teknik Digital ada asisten iseng yang bertanya “kenapa harus ada latch dan flip-flop kalo memang keduanya sama?”….

bukankah kita melihat dua hal sama karena kita tak mampu melihat perbedaan antara keduanya..? (MORE)