Monthly Archives: Februari 2012

Am I {Homogenic}

Time goes by, left behind
Don’t stop, turn around

Feel alone without you

I turn myself away
Where we cannot stay
We’ve struggling each day
Many possibilities

Am I hurting you that much
Am I putting you in doubt
Did I treat you so unkind
Do I have to lose you now…

Words still work to say
But my feelings are never fake
In a never ending way

 

Iklan

Tembi Rumah Budaya

15 Februari 2012

Tadi malam kami baru saja pindah kos ke kamar baru. Saya yang memang sering terikat dengan tempat di mana saja saya tinggal selalu merasa janggal dengan perpindahan. Saya masih sering ragu sebenarnya ke mana karir saya akan berlanjut. Saya juga tidak yakin bisa berlama-lama di Jogja. Dengan pola piker mengejar untung dan balas dendam saya selalu khawatir bahwa potensi pengembangan karir saya di Jogja lebih kecil daripada Surabaya. Lantas bagaimana dengan pencapaian yang akan saya tunjukkan kepada keluarga saat kami berjumpa nanti?

Bertentangan dengan hal itu, saya sudah setengah bosan kembali ke Surabaya. Mengingat masa-masa penuh tekanan, ego, dan kesombongan tanpa produktifitas diri yang berarti. Saya teramat ragu saya akan punya teman hati jika saya kembali ke kota itu. Selalu teringat dengan cita dan cinta yang hanya berahir dengan tai ayam di pemanggangan sate babi.

Pagi ini jam 9 saya berangkat ke Surabaya untuk memenuhi janji saya pada Mamad sekitar 4 bulan yang lalu. Ini lebih mirip upaya untuk membayar hutang dan tidak ada keuntungan materil yang bisa saya peroleh dari pekerjaan ini karenanya saya ingin semua cepat selesai dan kita bergerak ke cerita selanjutnya. Saya bosan melakukan terlalu banyak perjalanan none of which gave me money. Tak juga pelajaran, saya tetap belajar mengambil hikmah dari berbagai luka. Hanya saja mungkin interpretasi saya saat ini masih terenkripsi.

Hari esok akan ada luka yang lebih membara karena malam ini seseorang mungkin kecewa.